![]() |
| Gambar 1. Pembakaran batok kelapa (nyilap sayak) di desa Kemang Manis Pino Raya, Bengkulu Selatan |
Bengkulu selatan - Malam Nujuhlikur ini artinya adalah malam ke-27 bulan ramadhan, tradisi yang sering di lakukan oleh suku serawai di bengkulu selatan provinsi Bengkulu untuk memeriahkan malam nujuhlikur yaitu nyilap sayak (membakar tempurung kelapa).
Nyilap sayak umumnya di lakukan oleh anak - anak, di mulai jauh hari sebelum malam ke 27 puasa, anak - anak sudah melakukan pengumpulan sayak (tempurung kelapa), sayak yang terkumpul ini kemudian di lobangi tengahnya dengan menggunakan kayu.
Sayak ini juga di jadikan mainan oleh anak - anak yaitu main sayak, permainan ini di lakukan lebih dari satu anak, biasanya di lakukan soreh hari di bulan Ramadhan, tiap orang mengumpulkan sayaknya sesuai persetujuan kemudian sayak tersebut di susun bertumpuk dan di lempar mengunakan kayu kira - kira sebesar dan sepanjang pemukul bisbol dengan jarak melempar yang di tentukan dan di lakukan secara bergiliran, apabila sayak tersebut terkena lemparan dan berhamburan maka dialah pemenangnya dan berhak mendapatkan sayak yang berhamburan tersebut, ini menjadi salah satu kegiatan sehari - hari anak menjelang malam Nujuhlikur tiba.
Siang menjelang malam Nujuhlikur anak - anak dengan di bantu oleh orang dewasa di sibukkan dengan membuat lanjaran yaitu tonggak kayu - kira sebesar lengan dengan panjang kira - kira 1 sampai 2 meter yang di gunakan untuk menyusun sayak yang akan di bakar, tonggak kayu ini kemudian di pancangkan (di tancapkan ke tanah), kemudian barulah sayak yang telah di lobangi tadi di susun di kayu tersebut .
Selesai shalat tarawih barulah lanjaran sayak tersebut di bakar di mulai dari bagian ujung lanjaran yaitu pada bagian paling atas lanjaran tersebut, sembari menunggu lanjaran habis di lalap api warga bersantai menikmati malam di terangi dengan sinar api lanjaran sayak yang membuat suasana hangat penuh kekeluargaan.
Nyilap sayak umumnya di lakukan oleh anak - anak, di mulai jauh hari sebelum malam ke 27 puasa, anak - anak sudah melakukan pengumpulan sayak (tempurung kelapa), sayak yang terkumpul ini kemudian di lobangi tengahnya dengan menggunakan kayu.
Sayak ini juga di jadikan mainan oleh anak - anak yaitu main sayak, permainan ini di lakukan lebih dari satu anak, biasanya di lakukan soreh hari di bulan Ramadhan, tiap orang mengumpulkan sayaknya sesuai persetujuan kemudian sayak tersebut di susun bertumpuk dan di lempar mengunakan kayu kira - kira sebesar dan sepanjang pemukul bisbol dengan jarak melempar yang di tentukan dan di lakukan secara bergiliran, apabila sayak tersebut terkena lemparan dan berhamburan maka dialah pemenangnya dan berhak mendapatkan sayak yang berhamburan tersebut, ini menjadi salah satu kegiatan sehari - hari anak menjelang malam Nujuhlikur tiba.
Siang menjelang malam Nujuhlikur anak - anak dengan di bantu oleh orang dewasa di sibukkan dengan membuat lanjaran yaitu tonggak kayu - kira sebesar lengan dengan panjang kira - kira 1 sampai 2 meter yang di gunakan untuk menyusun sayak yang akan di bakar, tonggak kayu ini kemudian di pancangkan (di tancapkan ke tanah), kemudian barulah sayak yang telah di lobangi tadi di susun di kayu tersebut .
Selesai shalat tarawih barulah lanjaran sayak tersebut di bakar di mulai dari bagian ujung lanjaran yaitu pada bagian paling atas lanjaran tersebut, sembari menunggu lanjaran habis di lalap api warga bersantai menikmati malam di terangi dengan sinar api lanjaran sayak yang membuat suasana hangat penuh kekeluargaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar